ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KASUS CARSINOMA COLON

BAB I
KONSEP MEDIS
1. Pengertian
Kanker kolorektal adalah tumbuhnya sel-sel ganas dalam tubuh di dalam permukaan usus besar atau rektum. Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas biasa disebut adenoma yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat). (www.republika.co.id).
Kanker kolon / usus besar adalah tumbuhnya sel kanker yang ganas di dalam permukaan usus besar atau rectum (Boyle & Langman, 2000 : 805).
Kanker kolon adalah pertumbuhan sel yang bersifat ganas yang tumbuh pada kolon dan menginvasi jaringan sekitarnya (Tambayong, 2000 : 143).
Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kanker kolon adalah suatu pertumbuhan tumor yang bersifat ganas dan merusak sel DNA dan jaringan sehat disekitar kolon (usus besar)
2. Etiologi
Penyebab dari pada kanker Colon tidak diketahui. Diet dan pengurangan waktu peredaran pada usus besar (Aliran depan feces) yang meliputi faktor kausatif. Petunjuk pencegahan yang tepat dianjurkan oleh Amerika Cancer Society, The National Cancer Institute dan organisasi kanker lainnya. Makanan-makanan yang pasti di curigai mengandung zat-zat kimia yang menyebabkan kanker pada usus besar. Makanan tersebut juga mengurangi waktu peredaran pada perut, yang mempercepat usus besar menyebabkan terjadinya kanker. Makanan yang tinggi lemak terutama lemak hewan dari daging merah menyebabkan sekresi asam dan bakteri anaerob menyebabkan timbulnya kanker didalam usus besar. Daging yang di goreng dan di panggang juga dapat berisi zat-zat kimia yang menyebabkan kanker. Diet dengan karbohidrat murni yang mengandung serat dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi waktu peredaran dalam usus besar. Beberapa kelompok menyarankan diet yang mengadung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran dan buah-buahan ( e.g Mormons,seventh Day Adventists ).
3. Patofisiologi
Penyebab jelas kanker usus besar belum diketahui secara pasti, namun makanan merupakan faktor yang penting dalam kejadian kanker tersebut. Yaitu berkorelasi dengan faktor makanan yang mengandung kolesterol dan lemak hewan tinggi, kadar serat yang rendah, serta adanya interaksi antara bakteri didalam usus besar dengan asam empedu dan makanan, selain itu dapat juga dipengaruhi oleh minuman yang beralkohol, khususnya bir.
Kanker kolon dan rektum terutama berjenis histopatologis (95%) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel dalam usus = endotel). Munculnya tumor biasanya dimulai sebagai polip jinak, yang kemudian dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal dan meluas ke dalam struktur sekitarnya. Tumor dapat berupa masa polipoid besar, tumbuh ke dalam lumen dan dengan cepat meluas ke sekitar usus sebagai striktura annular (mirip cincin). Lesi annular lebih sering terjadi pada bagian rektosigmoid, sedangkan lesi polipoid yang datar lebih sering terjadi pada sekum dan kolon asendens.
Tumor dapat menyebar melalui :
1. Infiltrasi langsung ke struktur yang berdekatan seperti kedalam kandung kemih (vesika urinaria).
2. Penyebaran lewat pembuluh limfe, limfogen ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon.
3. Melalui aliran darah, hematogen biasanya ke hati karena kolon mengalirkan darah balik ke sistem portal.


4. Manifestasi Klinis
Mula-mula gejalanya tidak jelas, seperti berat badan menurun (sebagai gejala umum keganasan) dan kelelahan yang tidak jelas sebabnya. Setelah berlangsung beberapa waktu barulah muncul gejala-gejala lain yang berhubungan dengan keberadaan tumor dalam ukuran yang bermakna di usus besar. Makin dekat lokasi tumor dengan anus biasanya gejalanya makin banyak. Bila kita berbicara tentang gejala tumor usus besar gejala tersebut terbagi tiga yaitu gejala lokal, gejala umum dan gejala penyebaran (metastasis).
1. Gejala lokalnya seperti :
1) Perubahan kebiasaan buang air.
2) Timbulnya rasa nyeri disertai mual dan muntah saat buang air besar, terjadi akibat sumbatan saluran pembuangan kotoran oleh massa tumor.
3) Adanya benjolan pada perut yang mungkin dirasakan oleh penderita.
4) Timbul gejala-gejala lainnya di sekitar likasi tumor, karena kanker dapat tumbuh mengenai organ dan jaringan sekitar tumor tersebut.
Gejala-gejala ini terjadi belakangan, menunjukkan semakin besar tumor dan semakin luas penyebarannya.
2. Gejala umumnya seperti :
1) Berat badan turun tanpa sebab yang jelas (ini adalah gejala yang paling umum di semua jenis keganasan).
2) Hilangnya nafsu makan.
3) Anemia, pasien tampak pucat.
4) Sering merasa lelah.
5) Kadang-kadang mengalami sensasi seperti melayang.
3. Gejala penyebarannya seperti :
1) Penyebaran kehati, menimbulkan gejala :
• Penderita tampak kuning.
• Nyeri pada perut, lebih sering pada bagian kanan atas disekitar lokasi hati.
• Pembesaran hati, biasanya tampak pada pemeriksaan fisik oleh dokter
2) Timbul suatu gejala lain yang disebut pareoneoplastik, berhubungan dengan peningkatan kekentalan darah akibat penyebaran kanker.
5. Stadium Kanker Kolon
1. Stadium I bila keberadaan sel-sel kanker masih sebatas pada lapisan dinding usus besar (lapisan mukosa).
2. Stadium II terjadi saat sel-sel kanker sudah masuk ke jaringan otot di bawah lapisan mukosa.
3. Pda stadium III sel kanker sudah menyebar ke sebagian kelenjar limfe yang banyak terdapat disekitar usus.
4. Stadium IV terjadi saat sel-sel kanker sudah menyerang seluruh kelenjar limfe atau bahkan keorgan-organ lain.
6. Pemeriksaan Penunjang
1. Endoskopi.
2. Radiologi.
3. Ultrasonografi (USG).
4. Histopatologi.
5. Laboratorium.
6. Scan.
7. Biopsi.
8. Jumlah darah lengkap dengan diferensiasi dan trombosis.
9. Sinar-X


7. Penatalaksanaan (Medis. Keperawatan, Diet)
Penatalaksanaan Medis
Adapun penatalaksanaan medis dengan penderita kanker kolon bila sudah pasti ditemukan karsinoma kolorektal, maka kemungkinan pengobatannya adalah:
1. Pembedahan reseksi.
Satu-satunya pengobatan definitif adalah pembedahan reseksi dan biasanya diambil sebanyak mungkin dari kolon, batas minimal adalah 5 cm di sebelah distal dan proksimal dari tempat kanker. Untuk kanker di sekum dan kolon asendens biasanya dilakukan hemikolektomi kanan dan dibuat anastomosis ileo-transversal. Untuk kanker di kolon transversal dan di pleksura lienalis, dilakukan kolektomi subtotal dan dibuat anastomosis ileosigmoidektomi. Dikolon desendens dan sigmoid dilakukan hemikolektomi kiri dan dibuat anastomosis kolorektal transversal. Untuk kanker di rektosigmoid dan rektum atas dilakukan rektosigmoidektomi dan dibuat anastomosis. Desenden kolorektal pada kanker direktum bawah dilakukan proktokolektomi dan dibuat anastomosis kolorektal.
2. Kolostomi.
Kolostomi merupakan tindakan pembuatan lubang (stoma) yang dibentuk dari pengeluaran sebagian bentuk kolon(usus besar) kedinding abdomen (perut). Stoma ini dapat bersifat sementara atau permanen. Tujuan pembuatan kolostomi adalah untuk tindakan dekompresi usus besar kasus sumbatan/obstruksi usus.
Jenis-jenis kolostomi berdasarkan sifatnya :
a. Sementara.
Indikasi untuk kolostomo sementara :
1. Hirschprung disease.
2. Luka tusuk atau luka tembak.
3. Atresia Ani letak tinggi.



b. Permanen.
Indikasi untuk kolostomi permanent yaitu penyakit tumor ganas pada kolon yang tidak memungkinkan tindakan operasi reseksi anastomosis usus.
3. Radioterapi
Seyelah dilakukan tindakan pembedahan perlu dipertimbangkan untuk melakukan radiasi dengan dosis adekuat. Memberikan radiasi isoniasi pada neoplasma. Karena pengaruh yang mematikan lebih besar pada sel-sel kanker yang sedang proliferasi dan berdiferensiasi buruk dibandingkan terhadap sel-sel normal yang berada didekatnya, maka jaringan normal mungkin mengalami cidera dalam derajat yang dapat ditoleransi dan dapat diperbaiki. Sedangkan sel-sel kanker dapat dimatikan , selanjutnya dilakukan kemoterapi.
4. Kemoterapi.
Kemoterapi yang di berikan ialah 5-flurourasil (5-FU). Belakangan ini sering dikombinasikan dengan leukovorin yang dapat meningkatkan efektifitas terapi. Bahkan ada yang memberikan 3 macam kombinasi yaitu 5-FU, levamisol dan leuvocorin.
Perawatan Pasca Operasi Kolostomi :
1. Keseimbangan cairan dan elektrolit. Asenden colostomy atau colostomy yang diikuti dengan reseksi mungkin faecesnya cair diperlukan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.
2. Perawatan kulit. Jika ada iritasi kulit harus dikaji secara tepat guna sehingga tindakan yang diambil tepat.
Prinsip pencegahan kulit sekitar stroma :
a. Pencegahan primer bertujuan untuk proteksi : Bersihkan dengan perlahan-lahan, gunakan skin barier, ganti segera kantong bila terjadi kebocoran / rembes atau penuh.
b. Pencegahan sekunder / penanganan kulit yang sudah terjadi kerusakan. Kulit dengan eritema : Ganti kantong kolostomi setiap 24 jam, bersihkan kulit dengan air hangat pakai kapas dan keringkan, gunakan kantong kolostomi yang tidak menimbulkan alergi kulit yang erosi, sama dengan eritema tetapi setelah dibersihkan olesi daerah erosi dengan zalf misalnya zinksalf.
3. Diet
Dianjurkan mengkonsurnsi diet yang seimbang terutama dengan stoma permanen. Diet yang dikonsumsi sifatnya individual asal tidak menyebabkan diare, konstipasi dan menimbulkan gas.
Penatalaksanaan keperawatan
1. Dukungan adaptasi dan kemandirian.
2. Meningkatkan kenyamanan.
3. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal.
4. Mencegah komplikasi.
5. Memberikan informasi tentang proses/ kondisi penyakit, prognosis, dan kebutuhan pengobatan.
Penatalaksanaan Diet
1. Cukup mengkonsumsi makanan serat, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.
2. Kacang-kacangan (lima porsi setiap hari)
3. Menghindari makanan yang mengandung laemak jenuh dan kolesterol tinggi tarutama yang terdapat pada daging hewan.
4. Menghindari makanan yang diawetkan dan pewarna sintetik, karena hal tersebut dapat memicu sel karsinogen/sel kanker.
5. Hindari minuman beralkohol dan rokok yang berlebihan.
6. Melaksanakan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur.
8. Komplikasi
Komplikasi terjadi sehubungan dengan bertambahnya pertumbuhan pada lokasi tumor atau melalui penyebaran metastase yang termasuk :
1. Perforasi usus besar yang disebabkan oleh peritonitis.
2. Pembentukan abses.
3. Pembentukan fistula pada urinari bladder atau vagina.
Biasanya tumor menyerang pembuluh darah dan sekitarnya yang menyebabkan pendarahan. Tumor tumbuh ke dalam usus besar dan secara berangsur-angsur membantu usus besar dan pada akirnya tidak bisa sama sekali. Perluasan tumor melebihi perut dan mungkin menekan pada organ yang berada disekitanya ( Uterus, urinary bladder, dan ureter ) dan penyebab gejala-gejala tersebut tertutupi oleh kanker.




9. Pencegahan Kanker Kolon
1. Konsumsi makanan berserat tujuannya untuk memperlancar buang air besar dan menurunkan derajat keasaman, konsentrasi asam lemak, asam empedu, dan besi dalam usus besar.
2. Asam lemak omega-3, yang terdapat dalam ikan tertentu.
3. Konsentrasi kalium, vitamin A, C, D, dan E dan betakarotin.
4. Susu yang mengandung lactobacillus acidophilus.
5. Berolahraga dan banyak bergerak sehingga semakin mudah dan teratur untuk buang air besar.
6. Hidup rileks dan kurangi stress.












BAB II
KONSEP KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Pengkajian pada pasien dengan kanker kolon menurut Marilynn E. Doenges (1999) diperoleh data sebagai barikut :
Aktivitas/Istirahat
Pasien dengan kanker kolorektal biasanya merasakan tidak nyaman pada abdomen dengan keluhan nyeri, perasaan penuh sehingga perlu dilakukan pengkajian terhadap pola istirahat dan tidur.
Sirkulasi
Gejala : Palpitasi, nyari dada pada pergerakan kerja.
Kebiasaan : Perubahan pada tekanan darah.
Integritas Ego
Faktor stress (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stress misalnya merokok, minum alcohol, menunda menceri pengobatan, kenyakinan religius/spiritual.
Masalah tentang perubahan dalam penampilan misalnya alopesia, lesi, cacat dan pembedahan.
Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak merasakan rasa bersalah, kehilangan.
Tanda : Kontrol, depresi, menyangkal, menarik diri, marah.
Eliminasi
Adanya perubahan fungsi kolon akan mempengaruhi perubahan pada defekasi pasien, konstipasi dan diare terjadi bergantian. Bagaimana kebiasaan di rumah yaitu: frekuensi, komposisi, jumlah, warna, dan cara pengeluarannya, apakah dengan bantuan alat atau tidak adakah keluhan yang menyertainya. Apakah kebiasaan di rumah sakit sama dengan di rumah.
Pada pasien dengan kanker kolerektal dapat di lakukan pemeriksaan fisik dengan observasi adanya distensi abdomen, massa akibat timbunan faeces.
Massa tumor diabdomen, pembesaran hepar akibat metastase, asites, pembesaran kelenjar inguinal, pembesaran kelenjar aksila dan supra klavikula, pengukuran tinggi badan dan berat badan, linkar perut, dan colok dubur.
Makanan/Cairan
Gejala : Kebiasaan makan pasien di rumah dalam sehari, seberapa banyak dan komposisi setiap kali makan, adakah pantangan terhadap suatu makanan, ada keluhan anoreksia, mual, perasaan penuh (begah), muntah, nyeri ulu hati sehingga menyebabkan berat badan menurun.
Tanda : Perubahan pada kelembaban/turgor kulit, edema
Neurosensori
Gejala: Pusing, sinkope karena pasien kurang beraktivitas, banyak tidur sehingga sirkulasi darah ke otak tidak lancar.
Nyeri/kenyamanan
Gejala : Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi misalnya ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat (dihubungkan dengan proses penyakit).
Pernapasan
Gejala : Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seorang perokok). Pemajanan abses.
Keamanan
Gejala : Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen. Pemajanan matahari lama/berlebihan.
Tanda : Demam, ruam kulit, ulserasi.

Seksualitas
Gejala : Masalah seksual misalnya dampak pada hubungan perubahan pada tingkat kepuasan. Multigravida lebih besar dari usia 30 tahun. Multigraviada, pasangan seka multiple, aktivitas seksual dini, herpes genital.
Interaksi social
Gejala : Ketidakadekuatan/ kelemahan sistem pendukung. Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan dirumah, dukungan atau bantuan). Masalah tentang fungsi/tanggung jawab, peran penyuluhan/pembelajaran.










2. Penyimpangan KDM
Kelainan kolon Diet/Kebiasaan makan rendah serat

Kolitis Ulseratif Perubahan feses dan degradasi garam
empedu
Pembentukan abses
Masa transit feses meningkat
Kontrak zat berpotensi karsinogenik
dengan mucosa usus bertambah lama

Menyerang dinding usus

Ca Colon

Inflamasi jeringan Benjolan pada perut Ketidakadekuatan
masukan cairan
Kehilangan fungsi kolon Pengeluaran mediator kimiawi (Histamin,Bradikinin,zerotinin, Prostaglandin) Penempatan
Gangguan absorbsi cairan kolostomi pada kolon
Sigmoid atau asenden Kekurangan volume cairan Neurosensori
Hipotalamus Obstruksi

Corteks serebri Perubahan defekasi

Nyeri dipersepsikan Konstipasi

Nyeri

3. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kurang masukan cairan
2. Nyeri (akut) berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan kulit sekunder terhadap tindakan pembedahan.
3. Risiko tinggi terhadap konstipasi / diare berhubungan dengan karsinoma kolon.
4. Rencana Asuhan Keperawatan
1. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kurang masukan cairan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kekurangan volume cairan tidak terjadi.
Kriteria Evaluasi : Menunjukkan keseimbangan adekuat dengan bukti membran mucosa lembab, turgor kulit baik, dan pengisian kapiler baik, tanda vital stabil, dan secara individual mengeluarkan urine secara tepat.
INTERVENSI RASIONAL
1. Awasi masukan dan haluaran dengan cermat, ukur feses cair. 1. Memberikan indikator langsung keseimbangan cairan.
2. Palpasi nadi perifer. Evaluasi pengisian kapiler, turgor kulit, dan status membran mucosa. 2. Memberikan informasi tentang volume sirkulasi umum dan tingkat hidrasi.
3. Tinjau ulang penyebab pembedahan dan kemungkinan efek camping pada keseimbangan cairan. 3. Mengeksaserbasi cairan dan kehilangan elektrolit.
4. Berikan cairan IV dan elektrolit sesuai indikasi. 4. Dapat diperlukan untuk mempertahankan perfusi jeringan adekuat/fungís organ.

2. Nyeri (akut) berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan kulit sekunder terhadap tindakan pembedahan.
Tujuan : Menyatakan nyeri hilang atau terkontrol.
Kriteria Evaluasi : - Menunjukkan nyeri hilamg, mampu tidur/istirahat dengan tepat.
- Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan
kenyamanan umum sesuai indikasi situasi individu.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, intensitas (skala 0-10) 1. Membantu mengevaluasi derajat ketidaknyamanan dan keefektifan analgesik atau dapat menyatakan terjadinya komplikasi.
2. Berikan tindakan kenyamanan dengan mengubah posisi dan yakinkan pasien bahwa perubahan posisi tidak akan mencederai stoma. 2. Mencegah ketidaknyamanan, menurunkan tegangan otot, meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan doping.
3. Dorong penggunaan tehnik relaksasi, misal bimbingan imajinasi, visualisasi. 3. Membantu pasien untuk istirahat lebih efektif dan memfokuskan kembali perhatian, sehingga menurunkan nyeri dan ketidaknyamanan.
4. Berikan obat sesuai indikasi, misal analgesik. 4. Menurunkan nyeri, meningkatkan kenyamanan.

3. Risiko tinggi terhadap konstipasi / diare berhubungan dengan karsinoma kolon.
Tujuan : Setelah dilakukan tidakam keperawatan diharapkan pasien dapat mempertahankan konsistensi/ pola defekasi umum.
Kriteria Evaluasi : - Mengungkapkan pemahaman tentang faktor dan intervensi/solusi yang tepat berkenaan dengan situasi individu.
- Membuat pola eliminasi sesuai kebutuhan fisik dan gaya hidup dengan ketepatan jumlah dan konsistensi.
INTERVENSI
RASIONAL
1. Pastikan kebiasaan defekasi pasien dan gaya hidup sebelumnya. 1. Membantu dalam pembentukan jadwal irigasi efektif untuk pasien dengan kolostomi.
2. Tinjau ulang pola diet dan jumlah/tipe masukan cairan. 2. Masukan adekuat dari serat dan makanan memberikan bula dan cairan adalah faktor penting dalam menentukan konsistensi feses.
3. Informasikan pasien dengan kolostomi bahwa pada awalnya keluaran akan cair. Bila terjadi konstipasi, ini harus dilaporkan pada perawat atau dokter.
3. Meskipun usus halus akhirnya mulai melakukan fungsi absorpsi air untuk memungkinkan semisolid lebih banyak, konstipasi dapat menandakan obstruksi.
4. Instruksikan pasien dalam penggunaan kantung ujung tertutup atau lempengan, balutan bila irrigáis berhasil dan keluran kolostomi sigmoid menjadi lebih dapat diatasi, dengan pengeluaran setiap 24 jam.
4. Memungkinkan pasien merasa lebih nyaman secara sosial dan lebih murah dibanding kantung ostomi reguler.










BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan :
a. Mahasiswa mengetahui dan mampu menjelaskan tentang pengertian, etiologi, patofisiologi, klasifikasi, manifestasi klinik, dan penatalaksanaan medis dari kasus “ Carsinoma colon”.
b. Mahasiswa dapat melaksanakan pengkajian status keperawatan “ Carsinoma colon”.
c. Mahasiswa dapat menetapkan masalah keperawatan pengkajian data yang dilakukan
d. Mahasiswa dapat membuat rencana asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa yang terjadi pada klien
e. Mahasiswa dapat melaksanakan tindakan keperawatan berdasarkan asuhan keperawatan yang telah ditetapkan
f. Mahasiswa dapat mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan
g. Mahasiswa dapat mendokumentasikan asuhan keperawatan secara sistematis dan berkesinambungan




B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka disarankan :
a. Diharapkan kepada mahasiswa khususnya mahasiswa keperawatan agar dapat mengerti, memahami dan dapat menjelaskan tenatang penyakit “ Carsinoma colon” baik mengenai pengertian, etiologi, patofisiologi, klasifikasi, manifestasi klinik, penatalaksannan medis maupun pencegahan serta penerapan Asuhan Keperawatannya.
b. Mahasiswa diharapkan lebih banyak menggali kembali tentang proses penyakit “ Carsinoma colon”. Dan ilmu yang didapatkan dapat diterapakan dalam kehidupan bermasyarakat.
c. Perawat mampu menjelaskan kepada masyarakat bahwa penyakit Carsinoma Colon bisa disebabkan oleh faktor makanan yang mengandung kolesterol dan lemak tinggi, kadar serat yang rendah, serta interaksi antara bakteri di dalam usus besar dengan asam empedu dan makanan, selain itu dapat juga di pengaruhi oleh minuman yang berakohol, khususnya bir.
d. Dalam upaya penurunan jumlah penderita Carsinoma Colon diharapkan kepada tim kesehatan maupun mahasiswa keperawatan untuk lebih meningkatkan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat mengenai penyakit Carsinoma Colon.





DAFTAR PUSTAKA
Doenges, E. Marrilynn dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Gale, Daniele & Charette, Jane. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta: EGC
Meltzer, C. Suzanne dkk. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Vol 2. Edisi 8. Jakarta: EGC
Price, A. Sylvia & Wilson, M. Lorraine. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses- Proses Penyakit Vol 1. Edisi 4. Jakarta: EGC
www.google.com.id. Tanggal Akses 10 Januari 2010
www.http://keperawatan-gun.blogspot.com/2009/10/karsinoma- Colon. Tanggal Akses 10 Januari 2010




Related Post:

0 komentar:

Daftar Isi

Welcome to Kumpulan Materi Keperawatan

Bismillah, Alhamdulillah, My Name is Ilham Burhanuddin and my nickname is Ilo and I was born in kendari on Juli 15, 1986. I’m Blogger from Indonesia. I hope all my Posts is usefull for all of you. Thanks for visit here and support me. The text, images and the tutorials themselves are under copyright of their respective author, so you cannot copy them either in english or in any other translated language. Also the Blogger Templates and Widgets provided on this website are licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 License, which permits both personal and commercial use. However, to satisfy the ‘attribution’ clause of the license, you are required to keep the footer links intact which provides due credit to its authors.

Social Stuff

  • RSS
  • Twitter
  • Facebook
  • HOME
Info