Promosi Kesehatan Anak
Promosi Kesehatan Anak
Pengertian
Menurut WHO, promosi kesehatan anak adalah proses membuat anak mampu meningkatkan kontrol dan memperbaiki kesehatan mereka. Dengan demikian, ia dapat diartikan sebagai memperbaiki kesehatan, memajukan, mendorong, dan menempatkan kesehatan anak lebih tinggi pada kebutuhan perorangan ataupun masyarakat pada umumnya.
Karena itu, aspek promosi kesehatan anak yang mendasar bahwa promosi bertujuan untuk melakukan pemberdayaan sehingga seorang anak mempunyai kepekaan yang lebih besar terhadap aspek-aspek kehidupan mereka yang memengaruhi kesehatannya.
Beberapa definisi kesehatan anak memusatkan pada kegiatan-kegiatan, tetapi yang lain memusatkan pada tujuan. Definisi WHO yang telah kita gunakan membatasi promosi kesehatan sebagai suatu proses, tetapi mengandung arti suatu tujuan (membuat seseorang mampu meningkatkan kontrol/kepedulian dan memperbaiki kesehatan mereka) dengan basis filosofi yang jelas mengenai pemberdayaan diri sendiri.
A. Komunikasi
Pada usia 3 bulan suara vokal (oooh, eeeh) dikeluarkan oleh bayi, dan konsonan pada usia 6 bulan sura berdeguk. Pada usia 9 bulan suara celoteh yang bervariasi dan bernada. Pada usia 1 tahun nama satu suku kata digunakan untuk obyek tunggal dan saat usia 2 tahun beberapa kata digunakan untuk menyampaikan ide dan akan mengikuti perintah sederhana, seperti “letak peristiwa yang terjadi saat ini kemampuan anak untuk memahami bahasa jauh lebih tinggi daripada kemampuan untuk mengucapkannya
B. Kedisiplinan
Hal yang paling sulit dalam mengasuh anak untuk disiplin adalah bagaimana kita sebagai orangtua bisa mengendalikan emosi kita. Ketidakmampuan kita mengendalikan emosi ini akhirnya muncul dalam bentuk pukulan atau tindakan fisik terhadap anak kita.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak balita masih belum bisa memahami hubungan antara tindakannya yang 'nakal' (menurut orangtua) dengan pukulan yang diterimanya. Anak hanya merasakan sakit karena dipukul tanpa tahu alasan kenapa mereka dipukul. Kalaupun si anak tidak lagi melakukan tindakan 'nakal'-nya itu, hal ini bukan karena dia menyadari kenakalannya, tetapi lebih pada rasa takut akan dipukul lagi. Artinya, pukulan tersebut sama sekali tidak bisa mendisiplinkan anak atas kesadarannya sendiri.
Hukuman yang muncul karena orang tua khawatir kehilangan kewibawaan, bukan upaya untuk menunjukkan kasih sayang atau melatih anak agar disiplin pada aturan, melainkan akan menimbulkan reaksi negatif. Anak akan merasa hukuman sebagai lambang kebencian orang tua kepada mereka. Arnold Buss seorang psikolog dalam bukunya Man in Perspective mengingatkan, bila hukuman diberikan terlalu sering dan anak merasakan hal ini tidak dapat dihindarkan, anak akan membentuk rasa ketidakberdayaan (sense of helplesness).
Berikut merupakan 8 cara untuk mengajarkan disiplin pada anak:
1. Belajar mengatakan "tidak" secara tegas tapi dengan, penuh kasih sayang, berwibawa, dan tanpa nada marah. Kemampuan ini akan menolong Anda dalam mendidik anak sehingga mereka mengetahui, ada batasan dalam berbuat sesuatu.
2. Selalu bersikap konsisten. Jika Anda telah mengatakan akan ada tindakan akibat dari perilakunya yang salah, terapkan "hukuman" tersebut sehingga anak tidak akan pernah mencobanya untuk memainkan Anda. Sikapnya yang tidak konsisten akan menghancurkan aturan dan disiplin.
3. Fokus dan targetkan satu atau dua perilaku yang harus ditaati dengan baik pada waktu yang bersamaan. Misalnya, makanan harus dihabiskan, makanan jangan dibuat mainan. Umumnya akan lebih efektif untuk mengajarkan anak pada satu atau dua bidang yang terfokus daripada mencoba untuk mengajarkannya sedikit-sedikit tapi dengan berbagai macam bidang yang berbeda.
4. Berlakulah seperti "bos" dan jangan malu untuk menjadi bos dalam membina hubungan dengan anak. Jika tidak, anak cenderung bertindak semaunya bagaikan anak ayam kehilangan induk dan akhirnya akan berprilaku negatif.
Anda dapat mengatakan pada anak bahwa anda adalah "bos" mereka. Tentu saja sebagai bos Anda tidak bertindak otoriter dan semena-mena.
5. Ajarkan anak disiplin, dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan cinta kasih.
6. Berikan anak pilihan-pilihan kecil, semisal baju apa yang ia sukai, mau wortel atau kacang polong. Setelah menentukan plihan, anak harus konsisten dengan pilihannya tersebut.
7. Ingat disiplin yang konsisten merupakan hal yang aman dan baik. Kepatuhan anak merupakan salah satu jaminan agar ia selamat dari bahaya. Waktu yang terbaik untuk menyiapkan diri dari dalam keadaan bahaya adalah sebelum Anda berada dalam bahaya.
8. Untuk langkah awal, ajarkan anak dengan cara memfokuskan mereka agar menurut pada aturan atau disiplin yang Anda buat. Anak sudah cukup mengerti untuk mempelajari konsep ini.
Hukuman badan secara fisiologis dan psikologis memiliki dampak jangka pendek dan panjang. Efek fisik jangka pendek misalnya luka memar, bengkak, dll. Sedangkan dampak fisik jangka panjang misalnya cacat seumur hidup. Efek psikologis jangka pendek, misalnya merasa marah, sakit hati, jengkel untuk sementara waktu. Dampak ini tentu lebih ringan dibandingkan dengan efek psikologis jangka panjang,seperti merasa dendam yang mungkin sampai bertahun-tahun. Bahkan, Philip Greven dalam bukunya Spare the Child: The Religious Roots of Punishment and the Psychological Impact of Physical Abuse menyatakan, efek psikis jangka panjang itu termasuk disasosiasi bermacam bentuk seperti represi atau amnesia, pikiran terbelah serta kekurangpekaan
perasaan.
Hukuman badan harus dipandang sebagai jalan terakhir. Jalan terbaik antara lain dengan memberikan teladan yang baik.Dengan demikian si anak akan mempelajari tentang apa yang boleh dan tidak boleh mereka perbuat. Metode non-hukuman badan bentuk lain adalah metode time out dengan mengisolasi si anak dalam ruangan kurang nyaman baginya selama beberapa menit. Atau, anak diminta mengerjakan sesuatu yang kurang menyenangkan baginya, misalnya membersihkan kamar mandi, menyapu, dilarang menonton TV seharian, dll.
Namun hendaknya anak diberi peringatan sebelum hukuman dilaksanakan. Jika hukuman badan tidak dapat dihindarkan, A.M. Cooke dalam bukunya Family Medical Guide memberikan beberapa saran hukuman badan seperti apa yang patut dilakukan:
- Memukul anak dengan menggunakan telapak tangan terbuka pada pantat, kaki, atau tangan.
- Hukuman diberikan cukup satu kali sehari.
- Jangan memberikan hukuman badan pada anak yang berusia kurang dari 1 tahun.
- Sedapat mungkin hindari hukuman pada saat orang tua sedang pada puncak emosi.
- Hukuman diberikan singkat dan sungguh-sungguh, segera setelah kesalahan dilakukan
C. KESEHATAN GIGI
Gigi bagi seorang anak merupakan sesuatu yang belum terlalu diperhatikan. Oleh karenanya diperlukan perhatian orang dewasa dalam pemantauannya, agar di usianya yang dewasa anak tidak merasa minder dengan postur gigi yang kurang indah. Di bawah ini beberapa hal yang patut diketahui bagi orang dewasa terhadap kesehatan gigi anak :
1. Usia baru lahir – 1 tahun
a. Anak usia 6 bulan atau lebih yang mendapatkan ASI eksklusif, atau yang menerima formula siap saji, atau yang tinggal di tempat dengan air lokalnya yang mengandung flourida yang tidak adekuat memerlukan suplemen flourida. Anak-anak ini harus menerima suplemen flourida 20 menit sebelum makan.
b. Erupsi gigi primer biasanya dimulai pada usia 6 bulan dengan gigi seri tengah mandibula primer.
c. Orang tua harus membersihkan gigi bayi dengan kain basah.
d. Pemberian makan dengan ASI dan melalui botol selama tidur tidak dianjurkan. Hal ini untuk mencegah karies gigi akibat dari kontak dengan susu yang lama.
2. Usia Todler (Usia 1 – 3 tahun)
a. Jumlah gigi primer (20 gigi desidua) lengkap ketika mencapai usia 2,5 tahun.
b. Kunjungan ke dokter gigi pertama kali harus dilakukan sebelum usia toddler 2,5 tahun.
c. Orang tua harus membersihkan gigi toddler dengan sikat gigi lembut dan air, dan kemudian sela-sela gigi dengan benang halus. Pasta gigi mungkin tidak digunakan karena toddler tidak akan menyukai busanya. Pasta gigi berflourida berbahaya jika tertelan.
d. Toddler memerlukan suplemen flourida jika sumber air di tempat tinggalnya tidak mengandung flourida.
e. Diet harus rendah makanan yang bersifat kariogenik misalkan gula pasir yang dapat meningkatkan timbulnya karies gigi.
3. Usia Prasekolah (Usia 3 - 6 tahun)
a. Seluruh gigi desidua yang berjumlah 20 harus lengkap pada usia 3 tahun.
b. Perkembangan motorik halus pada usia prasekolah memungkinkan anak mampu menggunkanan sikat gigi dengan baik, anak harus menggosok giginya dua kali sehari.
c. Orang tua harus mengawasi anak menggosok gigi dan membersihkan sela-sela gigi.
d. Anak harus menghindari makanan yang bersifat kariogenik untuk mencegah karies.
4. Usia Sekolah (Usia 6 – 12 tahun)
a. Mulai sekitar usia 6 tahun, gigi permanen tumbuh dan anak secara bertahap kehilangan gigi desidua.
b. Kunjungan ke dokter gigi secara teratur adalah penting dan suplemen flourida harus dilanjutkan jika persediaan air tidak mengandung flourida yang cukup.
c. Anak harus menyikat giginya setelah makan dengan sikat gigi nilon yang lembut, karena kemampuan koordinasi anak telah meningkat, pengawasan dan bantuan orang tua biasanya tidak diperlukan.
d. Orang tua harus melakukan flossing sampai anak usia 8 atau 9 tahun.
e. Karies, maloklusi, dan penyakit periodontal semakin jelas pada kelompok usia ini.
5. Usia Remaja (Usia 12 – 18 tahun)
a. Pemeriksaan gigi secara teratur dan preventif harus dilanjutkan selama masa remaja.
b. Sebagian besar remaja harus mengenakan alat ortodontis (kawat gigi) yang adapat menyebabkan rasa malu.
c. Remaja harus tetap memberi perhatian khusus dalam menyikat dn merawat gigi dengan hati-hati.
D. NUTRISI
1. Susu
Susu merupakan sumber yang kaya energi, protein, dan mineral. Susupakan satu-satunya sumber nutrisi selama satu bulan pertama dan menyediakan bagian yang penting dari energi, protein, dan kalsium untuk anak pra sekolah. Susu sapi memiliki kandungan mineral dan osmolalitas yang tinggi. Susu formula bayi di modifikasikan untuk menyerupai kandungan dalam ASI.
Susu sapi yang tidak dimodifikasi sebaiknya tidak diberikan sebelum berusia 6 bulan, dan hampir semua merekomendasikan ASI atau susu formula hingga usia 12 bulan. Sebagai aturan, anak-anak seharusnya meminum susu formula, bukan susu tanpa lemak. Susu sapi mengandung jumlah vitamin dan besi yang tidak banyak. Para ibu dapat merasa bahwa pemberian ASI akan membatasi aktivitas sosial mereka, membuat pakaian tidak rapi, atau sangat repot. Keluarga yang mampu di jaman dahulu mempekerjakan orang untuk menyusui: dewasa ini susu botol sudah banyak tersedia. Sekitar 60% ibu memberikan ASI setelah melahirkan, namun berhenti dalam minggu pertama jarang sekali terjadi kegagalan dalam mengeluarkan air susu wanita merespon pemberian untuk melakukanny, namun ada suasana yang menyenangkan di antaranya dan hal yang sama dikatakan oleh banyak dokter dan perawat.
ASI memiliki kandungan nutrisi yang ideal bagi bayi aterm. ASI tidak mahal, langsung tersedia, dan mudah dikonsumsi. Pemberian ASI walu untuk satu bulan, merupakan awal yang sempurna bagi bayi untuk memulai kehidupannya. Perlindungan dari infeksi merupakan hal yang penting untuk bertahan hidup di negara berkembang.
Sifat anti infeksi pada ASI:
- Makanan yang steril
- Antibodi maternal (IgA)
- Laktoferin
- Lisozim interferon
- Mendukung kolaborasi lactobacilli dan bifidobacter
Bayi yang diberikan ASI biasanya tergantung pada jam (biasanya setiap 4 jam). Bayi menangis tidak selalu lapar: dan tidur tidak berarti kenyang. Menyusui dapat menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan bagi ibu dan bayinya. Di inggris 60-70% dari semua ibu memberikan asi setelah melahirkan, namun hanya tinggal 40% yang menyusui hingga minggu keenam, dan hanya 25% yang mencapai 3 bulan.
2. Makanan campuran
Istilah menyapi secara beragam digunakan untuk tujuan melepaskan bayi dari ASI atau memperkenajkan pada makanan padat. Usia dimana bayi diperkenalkan pada makanan selain susu tergantung pada tren yang berlaku. Bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan normal tidak akan mengalami defisiensi nutrisi dalam 4 bulan sejak kelahiran dan mayoritas bayi telah mendapatkan makanan padat sejak usia 3 bulan. Memberikan makanan padat sebelum usia 3 bulan merupakan keputusan yang salah. Rekomendasi untuk memberikan padat dan susu (campuran) seharusnya setelah mencapai usia 4-6 bulan
- Berikan buah-buahan yang dihaluskan
- Perkenalkan suatu jenis makanan baru pada satu saat, dimulai dengan jumlah kecil
- Jika makanan baru yang diperkenalkan tidak disukai oleh bayi, coba sesuatu yang lain. Kesulitan makan bisa merupakan akibat dari orang tua yang memaksakan untuk memberikan suatu makanan yang tidak disukai bayi
- Tingkatkan kepadatan makanan seiring bayi mulai mengunyah saat usia 6 bulan
- Pada usia 1 tahun, rata-rata bayi akan mendapatkan 3 kali makan besar dalam satu hari, dengan tambahan sedikit minuman atau cemilan saat pagi menjelang siang, menjelang sore, dan saat pergi tidur. Konsumsi susu sebanyak 20-30 ons per hari
3. Suplemen Vitamin Dan Zat Besi
Kondisi defisiensi vitamin secara klinis jarang terjadi dan bayi sehat yang mendapatkan cukup susu dan makan campuran sejak usia 6 bulan tidak membutuhkan suplemen vitamin.
Asam folat didapatkan dari sayuran dan buah-buahan. Vitamin D dapat diturunkan dari kolesterol dengan bantuan sinar matahari. Kolesterol terdapat dalam ikan yang berlemak, liver, dan margarin. Peningkatan proporsi pemasukan vitamin didapat dari makanan yang diperkaya susu formula, roti, sereal saat sarapan dan minuman rasa buah. Jika orang tua memutuskan untuk memberikan suplemen vitamin, bukan merupakan yang sepele karena suplemen mengandung kadar protein dan kalsium yang ditingkatkan, dan ditambahkan vitamin serta zat besi.
4. Nutrisi Pada Anak Batita Dan Anak Usia Sekolah
Perubahan pola sosial di berbagai negara industri telah memberikan pengaruh yang kuat, walau belum tentu memberikan manfaat, pada nutirsi bagi anak-anak. Tradisi untuk memasak di rumah atau menanam sayur sendiri telah bergeser menjadi belanja di supermarket, makanan cepat saji dengan pelayanan yang nyaman, dan makanan yang dapat dibawah pulang. Bahkan pada setiap waktu dan diberbagai tempat yang memiliki banyak pengangguran hal ini cenderung selalu ada. Terdapat peningkatan dalam hal kedua orang tua yang mencari pekerjaan di luar rumah, dan banyak keluarga yang membeli makanan praktis yang Cuma memerlukan penghangatan saja
5. Nutrisi Tidak Sempurna
Defisiensi nutrisi dapat merupakan akibat dari kekurangan kandungan tertentu dari makanan. Kelaparan hanya terjadi di Eropa pada anak yang diabaikan. Tetapi di banyak belahan dunia lain khususnya trpopis dan subtropis, marasmus infatil adalah hal yang sangat sering terjadi. Pada wilayah ini pemberian ASI dibiasakan berlanjut selama 2 tahun, dan sangat sedkit tersedia alternatif. Jika pasokan ASI tidak cukup, terjadi kelaparan. Bayi yang mengidap marasmus merupakan sasaran infeksi, dan mortalitas akan tinggi. Ada bukti bahwa jika terjadi kelaparan pada tahun pertama kehidupan, walau segera ditangani, dapat menyebabkan kecacatan mental yang permanen.misalnya:
- Kwashiokor, atau malnutrisi protein dominan, terlihat di bagian dunia yang sama dengan marasmus tetapi pada anak yang hanya mengkonsumsi tepung (nasi atau jagung ) rendah protein. Anak menjadi lesu, wajah, badan dan perut, membengkak, rambut menipis, kering, dan kehilangan pigmen.
- Rickets nutrisional merupakan hasil dari defisiensi vitamin D bersamaan dengan kurangnya paparan terhadap sinar matahari. Rickets juga muncul pada masa pertumbuhan aktif-pada masa prasekolah dan masa pubertas.
E. POLA TIDUR
Anak yang sulit tidur membuat orang tua strees. Anak kecil merepotkan di siang hari namun orang tua bisa bebas jika di malam hari mereka bisa beristirahat dengan tenang. Tidak tidur dapat dimulai dengan alasan yang bagus namun akhirnya “sulit” sementara lainnya anak yang “mudah”.
Bayi baru lahir menghabiskan sebagian besar waktunya denga tidur dengan tangisan biasanya menandakan rasa lapar, haus, dingin, atau nyeri. Bayi dari ibu pencemas atau depresi terlihat lebih tegang dan sering menangis.
Gangguan tidur paling sulit biasanya terjadi pada batita. Beberapa batita tidak tenang bila diletakkan di tempat tidur selam beberapa jam dan kemudian aktif kembali ketika anggota keluarga yang lain tidur nyenyak. Ketika orang tua mulai mencari konsultasi, hal ini telah menjadi suatu kebiasaan dan orang tua telah mencoba memperpanjang dan mengubah rutinitas tidur, dan akhirnya membawa anak tidur di tempat tidur orang tua.
Gangguan tidur dapat dimulai dari satu penyakit atau kesedihan, dimana memang dapat dimengerti anak akan bangun beberapa malam, namun kemudian diperpanjang oleh perhatian berlebih. Penyebab lain adalah menidurkan anak terlalu cepat atau pada waktu yang tidak menentu. Anak-anak memiliki kebutuhan tidur yang berbeda-beda dan kadang membutuhkan waktu yang lebih sedikit dari orang tua. Jika mereka di tidurkan lebih awal, baik karena orang tua berfikir mereka membutuhkan waktu tidur lebih banyak ataupun lebih menyukai sedikit waktu bersama pada sore hari, mereka akan terbangun dan marah karena merasa dibatasi.
Gangguan tidur paling baik dicegah dengan rutinitas yang bijaksana dan batas-batas yang tegas saat ada keinginan yang tidak beralasan. Jika anak ingin kehadiaran ibu sampai ia tertidur, sebaiknya dituruti daripada menjadikan bahan pakaian sebagai jimat. Jika kebiasaan buruk telah berkembang, penggunaan obat-obat hipnotik sementara tidak dapat dihindari.beberapa gangguan pola tidur yaitu:
1. Mimpi Buruk
Mimpio buruk sering dialami pada berbagai usia. Oarang tua yang juga pernah mengalamimimpi buruk biasanya tidak khawatir. Orang tua tahu bahwa mimpi buruk terjadi pada orang normal dan tidak berarti adanya suatu kekecewaan emosional yang berat. Tindakan seperti menbiarkan pintu kamar terbuka atau menyalahkan lampu dapat menenangkan anak yang takut tidur. Mimpi buruk biasanya terjadi dalam fase tidur gerakan mata cepat (rapyd eye movement/REM) dan merupakan kulminasi dari runtutan mimpi yang menyeramkan. Anak-anak dapat mengingat detil ini segera setelah bangun tidur.
2. Teror Malam Hari
Teror malam hari jarang ditemui, namun sangt mengejutkan. Hal ini biasanya terjadi pada jam pertama atau kedua saat tidur. Anak menjerit, duduk, dan menatap dengan mata terbelalak serta terlihat ketakutan seperti diserang oleh sesuatu yang hanya bisa dilihat olehnya. Anak bisa jatuh dari tempat tidur dan tidak mendengar kata-kata menenangkan dari orang tuanya. Dalam beberapa menit, anak akan tertidur nyenyak kembali dan tidak mengingat apapun di pagi hari. Teror malam hari terjadi pada fase non-REM dan timbul mendadak (bukan sebagai akibat dari runtutan mimpi). Teror malam hari juga disertai dengan peningklatan denyut nadi dan pernapasan yang sering
3. Berjalan Dalam Tidur
Ini bisa terjadi secara indefenden atau sebagai perpanjangan dari teror malam hari meskipun anak-anak yang berjalan dalam tidur cenderung berusia lebih tua (misalnya 6-12 tahun). Anak turun dari tempat tidur dan berjalan di sekitar rumah atau bahkan hingga ke jalan. Meski sulit untuk dibangunkan, anak dapat dibimbing kembali ke tempat tidur. Namun biasanya anak dapat menemukan jalannya sendiri kembali ke tempat tidur dan meneruskan tidur. Baik berjalan dalam tidur atao teror malam hari bukan merupakan emosi berat. Kedua kondisi ini cenderung familial dan menghilang sebelum masa remaja.
F. IMUNISASI
Kebanyakan penyakit pada masa anak-anak merupakan penyakit infeksi dan hal penting yang harus didapatkan setiap anak pada awal kehidupan adalah imunitas MEKANISME imunologi pada anak-anak pada dasarnya sama dengan pada orang dewasa namun belum berkembang sempurna saat lahir. Imunitas selular sudah efektif sejak lahir : selama 2 atau 3 tahun pertama, jumlah sel darah putih relatif tinggi, limposit lebih banyak dari pada polimorfik dalam sirkulasi darah. Pus dapat terbentuk pada usia berapapun. Imunitas humoral berkembang lebih lambat.
Imunoglobin G (IgG) memiliki reseptor di plasenta sehingga IgG maternal dapat di transfer melalui plasenta sejak masa fetal awal. Oleh karena itu bayi cukup bulan memiliki imunitas pasif terhadap berbagai infeksi termasuk campak, rubela, dan gondongan. Sebaliknya, molekul IgM yang lebih besar tidak dapat melewati plasenta karena tidak memiliki reseptor di sana sehingga neonatus sangat rentan terhadap beberapa infeksi
Imunisasi luas pada masyarakat meningkatkan imunitas kelompok, yang menurunkan kemungkinan transmisi infeksi di antara anak-anak serta memungkinkan terjadinya eradikasi penyakit (misalnya cacar). Tidak boleh ada anak yang tidak mendapatkan imunisasi tanpa adanya pertimbangan matang mengenai konsekuensinya, baik untuk anak tersebut sebagai satu individu dan bagi komunitas
Dalam menentukan jadwal imunisasi dibutuhkan dua pertimbangan dasar:
- Perlindungan terhadap penyakit apa? Hal ini membutuhkan pertimbangan serta bahaya dan efektifitas prosedur imunisasi. Semakin sering ditemukan dan semakin berbahaya penyakit, serta semakin aman imunisasinya, maka semakin besar kebutuhan imunisasi.
- Pada usia berapa imunisasi sebaiknya diberikan? Hal ini tergantung pada usia dimana anak rentan terhadap penyakit tertentu dan pada usia berapa anak dapat memberi respons terhadap vaksin yang diberikan. Seringkali didapatkan konflik dalam keputusan ini, seperti dalam kasus pertusis. Bahaya terbesar penyakit ini pada 6 bulan pertama kehidupan, namun respons imunologis relatif masih jelek sebelum usia 3 bulan
• KONTRAINDIKASI
Prosedur imunisasi harus dihindari pada anak yang sedang sakit akut. Vaksin hidup tidak boleh diberikan pada mereka yang sistem imunisasinya terganggu akibat resiko penularan ke seseorang dalam rumah tersebut yang hamil atau yang sistem imunisasinya terganggu harus dipertimbangkan.
Sebelum reaksi mayor terhadap dosis vaksin sebelumnya, hanya ada sedikit kontrandikasi terhadap polio (penisilin, streptomisin, neomisin, atau polimiksin) dan campak (neomisin atau kanamisin). Anafilaksis sebelumnya terhadap telur merupakan kontraindikasi terhadap MMR. Riwayat kejang atau eksema bukan merupakan kontraindikasi.
• Efek Yang Tidak Diinginkan
Reaksi minor akibat komponen pertusis dari imunisasi Hib/DTP umum terjadi gelisah, demam, dan menangis selama beberapa jam setelah penyuntikan dengan lokasi penyuntikan terasa sakit. Jika hal tersebut tejadi setelah penyuntikan pertama, maka berikan parasetamol pada dosis berikutnya.
BCG disuntikan intradermal di atas insersi otot deltoid. Setelah 3-6 minggu akan terdapat eritema, indurasi, dan kadang ulserasi. Kelenjar getah bening aksilaris mungkin membesar dan terasa sakit.
G. PROGRAM PEMERINTAH DALAM KESEHATAN ANAK
Indonesia masih memiliki angka kematian bayi dan balita yang cukup tinggi dengan angka yang sangat tinggi di sejumlah daerah. Masalah ditemukan dalam periode neonatal dan dampak dari penyakit menular, terutama pneumonia, malaria dan diare, ditambah dengan masalah gizi mengakibatkan lebih dari 80% kematian anak. Perawatan Penyakit Anak yang Terpadu (IMCI), yang diperkenalkan oleh WHO di tahun 1995, sedang diadopsi dan digunakan oleh banyak daerah dan propinsi. Kebanyakan pedoman teknis yang dibutuhkan untuk IMCI termasuk pedoman perencanaan, sedang dikembangkan dan digunakan meskipun sebagian perlu diperbaiki terutama yang berhubungan dengan kesehatan anak baru lahir.
Diperlukan penggabungan dari pendekatan IMCI kini yang terbatas dengan kebutuhan keseluruhan dari semua anak-anak (sakit dan sehat). Diperlukan juga untuk mencari cara-cara untuk mengurangi angka kematian bayi dan anak nasional dengan menargetkan daerah-daerah dimana angka ini paling tinggi dan dengan menargetkan kematian bayi bersama dengan program kesehatan lainnya seperti kesehatan ibu.
Fokus dari rencana pemerintah akan menjadi tantangan untuk mengembangkan strategi daerah keseluruhan untuk kesehatan anak sesuai dengan kebijakan kesehatan anak nasional. Pelaksanaan dari intervensi kesehatan anak yang luas dan terpadu, perbaikan alat-alat yang ada dan pengembangan alat-alat untuk membantu mengubah fokus pada anak yang sakit ke kesehatan keseluruhan dari anak.
Ini akan dicapai dengan mengikuti dasar-dasar dari pendekatan IMCI (peranan dari tingkat keluarga/masyarakat, meningkatkan ketrampilan pekerja kesehatan dan sistem kesehatan yang dibutuhkan untuk kesehatan anak) termasuk isu penting akan gizi, terutama pemberian ASI, sampai dengan pasal-pasal yang relevan dari Convention of Rights of the Child (CRC/ Konvensi Hak-Hak Anak). Selain itu, projek ini juga akan berupaya untuk memetakan dan membantu daerah-daerah dimana intervensi kesehatan anak memiliki dampak yang paling besar pada kematian anak.
Sasaran:
• Pendekatan yang lebih luas terhadap kesehatan anak sesuai dengan CRC, terutama pada tingkat daerah, termasuk ketiga komponen dari IMCI, periode neonatal dan isu-isu gizi seperti pemberian ASI. Sasaran ini, meskipun dibawah Sasaran Global Kesehatan Anak dan Remaja 3.1.3, juga akan berkontribusi secara besar pada Sasaran Global Kesehatan Anak dan Remaja 3.1.1(CRC), 3.1.4 (kesehatan bayi) dan NUT 4.2.4 (kurang gizi/ gizi).
DAFTAR PUSTAKA
Buku-buku teks komprehensif
Behrman RE, Kleigman RM, Arvin AM (eds). Nelson Texbook of Paediatrics, 15th¬
edn. WB Saunders, 2001.
Campbell AGM, Mclntosh N (eds). Forfar and Arneil’s Texbook of Paediatrics,
5th edn. Churchill livingstone, 1998.
Roberton N.R., Rennie J.M. (eds). Texbook of Neonatology, 3th edn. Churchill
Livingstone, 1999.
KESEHATAN-ANAK.COM
(http://www.icomp.org.my/inno2/inno2c1.htm)
http://albadroe.multiply.com/journal/item/64/Kesehatan_Gigi_pada_Anak
Related Post:
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Entri Populer
Kategori
- Farmakologi (21)
- Hipnotherapy (13)
- Info Kesehatan Terbaru (23)
- Keperawatan Anak (37)
- Keperawatan Jiwa (71)
- Keperawatan Maternitas (25)
- Keperawatan Umum (48)
- Software (26)

Bismillah, Alhamdulillah, My Name is Ilham Burhanuddin and my nickname is Ilo and I was born in kendari on Juli 15, 1986.
I’m Blogger from Indonesia. I hope all my Posts is usefull for all of you. Thanks for visit here and support me. The text, images and the tutorials themselves are under copyright of their respective author, so you cannot copy them either in english or in any other translated language. Also the Blogger Templates and Widgets provided on this website are licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 License, which permits both personal and commercial use. However, to satisfy the ‘attribution’ clause of the license, you are required to keep the footer links intact which provides due credit to its authors.
0 komentar:
Posting Komentar