KTI jiwa : Studi Pengetahuan Perawat Tentang Pelaksanaan Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Penggunaan Zat Adiktif Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Dr. Soepato Hardjohoesodo Kendari
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tuntutan keperawatan di rumah sakit jiwa memang tidak dapat dihindarkan karena saat ini sistim keperawatan kesehatan jiwa berubah dengan cepat. Pasien dengan kondisi permasalahan yang kompleks menginginkan pelayanan yang semakin kompleks pula. Dalam kondisi seperti ini, perawat ditantang untuk memberikan pelayanan yang berkualitas. Hal ini sesuai denaga Keliat BA (1991) bahwa profesi keperawatan membantu individu bukan hanya merawat penyakitnya tetapi semau aspek yaitu bio-psiko-sosial dan spritual,
disisi lain, keperawatan jiwa menghadapi dua tantangan dalam upaya memberikan perawatan yang berkualitas dalam sistim pelayanan kesehatan. Pertama, pra pelaksana perawatan saat ini merawat pasien dengan masalah yang majemuk dari pada sebelumnya. Kedua, para pelaksana keperawatan mempunyai ciri dan karakteristik yang berbeda dan juga kesempurnaan dan kemampuan pengetahuan yang berbeda. Untik itulah, pelaksana asuhan keperawatan jiwa haruslah dideasain untuk memenuhi tantangan ini dengan menyediakan pendekatan yang sistematik dlam pelaksanaan proses keperawatan secara profesional.
|
Gangguan pemggunaan zat adiktif merupakan kedaruratan psikiatrik karena ketergantungan obat dapat menyebabkan kelainan mental organik dan disebabkan oleh zat adiktif yang dapat mempengaruhi susunan saraf pusat. Sehingga pengetahuan perawat dalam memberikan intervensi keperawatan di ruang rawat inap sangatlah penting diman dengan keperawatan intensif dapat mmencegah efek sistemik dari zat dimana dapat berdampak pada intoksikasi (Anonim, 1999 : 117).
Upaya untuk meminimalisir dampak yang muncul akibat ketergantungan zat pada klien dengan gangguan penggunaan zat adiktif maka dibutuhkan suatu pendekatan yang sistimatis didalam melakukan intervensi keperawatan yang bersifat komprehensif dengan pendekatan proses keperawatan serta melibatkan berbagai pihak utamanya keluarga pasien. Berbagai masalah keperawatan yang menonjol pada klien dengan gangguan penggunaan zat adiktif adalah penurunan kesadaran dan gangguan pemusatan perhatian.
Peran perawat dalam melakukan tindakan keperawatan pada klien dengan penggunaan zat adiktif harus berdasarkan prinsip pemecahan masalah. Menurut Stuart dan Sundeen (1998) bahwa tindakan keperawatan yang diberikan pada penderita dengan penggunaan zat adiktif harus dilakukan secara profesional dengan menggunakan metode yang berdasarkan pada masalah yang muncul sebagai manifestasi dari ketergantungan zat.
Adapun peran perawat dalam pelaksanaan tindakan keperawatanpda penderita penggunaan zat adiktif terkait dengan sumberdaya manusia yang ada. Secara teoritis bahwa peran perawat dalam melakukan intervensi keperawatan dengan tepat dapat dilaksanakan oleh perawat profesional yaitu perawat yang telah menaatkan pendidikan minimal D III keoerawatan (Nurachma, 2001).
Menurut pendapat Keliat BA, dkk (1996) bahwa peran perawat di rumah sakit jiwa dalam melakuakn interfensi bimbingan keeraatan masih mengalami masalah yang smam dengan rumah sakit umum. Hasil evaluasi terhadap peran perawat dalam dokumentasi tindakan keperawatanditemuakn kurang dari 40 % yang memenuhi kriteria. Dari wawancara dengan perawat yang bekerja di rumah sakit jiwa ditemukan bebrapa kesulitan dalam menjalankan perannya di ruang rawat inap, yakni : kurang pemahaman tentang formulir pengkajian, kemampuan melasanakan proses keperawatan yang belum memadai.
Berdasarkan survei di rumah sakit jiwa Dr. Soeparto Hardjohoesodo kendari bahwa jumlah yang melakukan pelatihan tentang perawatan narkoba sebanyak 2 orang. Kemudian data penderita pengguna zat adiktif dari tahun 2004 sebanyak 35 orang, pada tahun 2005 meningkat menjadi 43 orang dan pada tahun 2006 bertambah lagi menjadi 45 orang. Sedangkan data dari bulan Januari sampai juli berjumlah 15 orang. Data tersebut menggambarkan bahwa jumlah penderita dengan gangguan penggunaan zat adiktif dari tahun ke tahun menunjukan peningkatan. Secara keseluruhan dari penderita tersebut sudah menimbulkan efek ketergantungan.zat.
Berdasrkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Studi Pengetahuan Perawat Tentang Pelaksanaan Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Penggunaan Zat Adiktif Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Dr. Soepato Hardjohoesodo Kendari Tahun 2007”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah pengetahuan perawat tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan penggunaan zat adiktif di ruang rawat inap rumah sakit jiwa dr. soepato hardjohoesodo kendari tahun 2007”?.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum.
Mendapatkan gambaran Pengetahuan Perawat Tentang Pelaksanaan Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan gangguan penggunaan zat adiktif di ruang rawat inap rumah sakit jiwa dr. soepato hardjohoesodo kendari tahun 2007.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pengetahuan perawat tentang pengkajian keperawatan pada klien dengan gangguan penggunaan zat adiktif di ruang rawat inap rumah sakit jiwa dr. soepato hardjohoesodo kendari tahun 2007.
b. Mengidentifikasi Pengetahuan Perawat Tentang perencanaan keperawatan pada klien dengan gangguan penggunaan zat adiktif di ruang rawat inap rumah sakit jiwa dr. soepato hardjohoesodo kendari tahun 2007.
c. Mengidentifikasi Pengetahuan Perawat Tentang pelaksanaan keperawatan pada klien dengan gangguan penggunaan zat adiktif di ruang rawat inap rumah sakit jiwa dr. soepato hardjohoesodo kendari tahun 2007.
d. Mengidentifikasi Pengetahuan Perawat Tentang evaluasi keperawatan pada klien dengan gangguan penggunaan zat adiktif di ruang rawat inap rumah sakit jiwa dr. soepato hardjohoesodo kendari tahun 2007.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai :
1. Sumbangan ilmiah yang dapat memperkaya hasana ilmu pengetahuan masyarakat mengenai gangguan jiwa khususnya pada klien dengan gangguan penggunaan zat adiktif.
2. Memberikan informasi kepada rumah sakit jiwa dr. soepato hardjohoesodo kendari dalam peningkatan asuahn keperawatan pada pasien rawat ianap.
3. Bahan masukan bagi peneliti-peneliti selanjutnya.
4. Pengalaman bagi peneliti dalam pengaplikasian ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan. Bahan informasi bagi lansia khususnya yang berada di Panti Wreda Minaula Kecamatan Ranomeeto tentang penyebab reumatik pada lansia.
|
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Pengetahuan
1. Pengertian
Pengetahuan adalah keyakinan mengenai suatu obyek yang telah dibuktikan kebenarannya, kiranya juga jelas bahwa kita hanya mempunyai pengetahuan mengenai sesuatu yang benar. Maka keyakinan yang hanya secara kebetulan benar tidak dapat diterima sebagai pengetahuan. Pengetahuan harus dibuktikan ( Hadi, 1996 : 123 ).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior). Makin tinggi pengetahuan/pendidikan kesehatan seseorang, makin tinggi kesadaran untuk berperan serta (Poedjawijatna, 1991 : 14 ).
Pengetahuan merupakan hasil “tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu yang dapat melalui indera penglihatan, rasa, dan raba (Notoadmojo, 2003 : 128).
Menurut penelitian Rogers dalam Notoatmojo (2003 :121) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi prilaku baru, (berprilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yakni :
a.
|
b. Interest, (merasa tertarik) terhadap stimulus atau obyek tersebut. Disini sikap subyek sudah mulai timbul, sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikap terhadap stimulus.
c. Evaluation (menimbang – nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
d. Trial dimana subyek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
e. Adoption dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Namun demikian dari penelitian selanjutnya rogers menyimpulkan bahwa perubahan prilaku tidak selalu melewati tahap – tahap tersebut di atas. Apabila penerimaan prilaku baru atau adopsi melalui proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaaran sikap yang positif, maka prilaku tersebut bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya, apabila prilaku tersebut tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran tidak akan berlangsung lama.
2. Cara memperoleh pengetahuan
Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari berbagai macam sumber, misalnya media massa , media elektronik, buku petunjuk, petugas (petugas kesehatan), kerabat dekat dan sebagainya. Pengetahuan ini dapat membentuk keyakinan tertentu sehingga seseorang berprilaku sesuai keyakinan tersebut (Istiarti, 2000: 45).
Berbagai macam cara memperoleh kebenaran pengetahuan, menurut Notoatmodjo (1997 : 15) mengelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu:
a. Cara tradisional atau non ilmiah
1) Cara coba salah (trial and error)
Apabila seseorang mengalami persoalan, upaya pemecahannya dilakukan dengan coba-coba saja. Apabila ada kemungkinan tersebut tidak berhasil dicoba kemungkinan yang lain.
2) Cara kekuasaan atau otoritas
Pengetahuan diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama maupun ahli ilmu pengetahuan
3) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu.
4) Melalui jalur pikir
Dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berfikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuan.
b. Cara modern
Cara baru atau cara modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis dan ilmiah. Dimana, cara ini dikembangkan oleh Notoatmodjo (1997 : 23) dengan pengamatan logis terhadap gejala-gejala alam atau kemasyarakatan kemudian hasil pengamatan tersebut dikumpulkan dan diklasifikasi dan akhirnya diambil kesimpulan umum.
3. Proses mendapatkan pengetahuan
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). Dalam mendapatkan pengetahuan melalui proses : Dari pengalaman dan hasil penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng dari perilaku yang tidak didasari dengan pengetahuan. Menurut Rogers 1997 dalam Notoatmodjo, (2003 : 121) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, didalam orang tersebut terjadi proses yang berurutan, awareness (kesadaran) yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (obyek) terlebih dahulu, interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus, evaluation, (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi, trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru dan adoption, sikapnya terhadap stimulus. Namun demikian dari penelitian selanjutnya, Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap di atas.
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaiknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran, maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo, 2003 : 122).
4. Tingkatan pengetahuan
Pengetahuan merupakan bagian dalam domain kognitif yang terdiri dari enam tingkatan ( Notoadmojo 2003 : 122 – 124 )
a. Tahu ( Know )
Know disini diartiakan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, “tahu” ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya. Contoh : dapat menyebutkan tanda – tanda kekurangan kalori dan protein pada anak balita.
b. Memahami ( Comprehension )
Pada tingkatan ini seseorang mampu untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi ( Aplication )
Yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang dipelajari pada situasi atau kondisi ril.
d. Analisis ( Analysis )
Yaitu kemampuan untuk menggunakan atau menjabarkan suatu materi atau obyek kedalam komponen – komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesa ( Syntesis )
Yakni kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian–bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi ( Evaluation )
Kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
Poedjawijatna ( 1999 : 22 – 23 ) mengemukakan bahwa ada dua tingkatan pokok pengetahuan yaitu:
a. Pengetahuan biasa yaitu pengetahuan yang dipergunakan orang terutama untuk hidupnya sehari – hari tanpa mengetahui seluk beluk yang sedalam-dalamnya dan seluas – luasnya, tidak mengetahui sebabnya demikian dan apa sebabnya baru demikian, misalnya orang tidak tahu benar mengapa air mendidih kalau dipanasi, dan sebagainya.
b. Ilmu yaitu disamping orang menaru minat pada garis pengetahuannya bagi hidupnya sehari – hari, orang juga ingin tahu dan berusaha pula memuaskan keinginannya itu lebih dalam : ia ingin tahu akan hal yang dihadapinya dalam keseluruhannya, tidak hanya memperhatikan gunanya saja, bahkan sekitarnya (nampaknya) tidak berguna masih diselidiki juga.
Lebih lanjut Poedjawijatna ( 1991 : 16 ) mengemukakan tentang macam–macam pengetahuan sebagai berikut :
a. Pengetahuan khusus yaitu mengenai satu saja.
b. Pengetahuan umum yaitu berlaku sebagai seluruh macam dan masing– masing dalam macamnya.
Baik pengetahuan khusus maupun umum, keduanya menjadi milik manusia berlandaskan pengalaman orang lain, sehingga manusia mengetahui sesuatu. Jadi, tahu hendaknya mencakup obyeknya, maka salahlah pengetahuannya, kelirulah orangnya. Kalau pengetahuan ternyata sesuai dengan obyeknya, maka puaslah dia serta dikatakan bahwa pengetahuannya itu benar atau ia mencapai kebenaran.
Pengetahuan diperoleh baik dari pengalaman langsung maupun dari pengalaman orang lain ( Notoatmojo, 2003 : 10 ).
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
a. Umur
Tingkat intelektual atau IQ akan menurun sejalan dengan bertambahnya usia, khususnya pada beberapa kemampuan lain misalnya pengetahuan kosa kata dan pengetahuan umum, tetapi hanya sedikit pengaruhnya (Malcom & Steve, 1995 : 186-187).
b. Pendidikan
Saitoe dalam Tirtarahardja (2002 : 15) mengartikan pendidikan adalah segala usaha yang dilakukan dengan sadar, dengan tujuan untuk mengubah tingkah laku manusia ke arah (yang baik) yang diharapkan.
Dalam pendidikan dapat dibina perilaku baru atau seseorang dapat tertarik kepada suatu perubahan perilaku. Pendidikan atau proses pembelajaran dapat dilaksanakan didalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Dari ketiga tempat tersebut maka sekolah merupakan lembaga pendidikan yang secara potensial memiliki peranan paling strategis bagi pembinaan generasi muda untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan negara yang sedang berkembang. Oleh karena itu perlu perhatian khusus terhadap kwalitas manusia sebagai sasaran pendidikan, dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut, masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Seorang yang berpendidikan tinggi bila diberikan informasi maka ia akan cepat dalam menangkap informasi tersebut karena adanya proses pemahaman atau penalaran yang dimilikinya, sehingga informasi yang diberikan dapat langsung dipahami dan dijalankannya. Pada orang yang berpendidikan rendah maka hal itu tidak akan terjadi. Proses pemahaman orang yang berpendidikan rendah apabila disampaikan suatu informasi tidak secepat orang yang berpendidikan tinggi sehingga jika disampaikan suatu informasi kepadanya maka akan lama baginya untuk memahaminya sehingga dapat menyulitkan dalam pelaksanaan suatu program kesehatan. Orang dengan pendidikan rendah akan susah untuk memahami proses pencegahan atau perawatan penyakit tetapi tidak demikian dengan orang yang berpendidikan tinggi. Orang yang berpendidikan rendah harus dijelaskan berkali-kali agar ia mengerti mengenai sesuatu tetapi pada orang yang tinggi pendidikannya dengan sekali penjelasan mungkin dia dapat mengerti. Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa sangat besar pengaruh pendidikan dalam upaya perubahan perilaku menuju perilaku yang sesuai dengan kesehatan. Dengan kata lain, dengan adanya pendidikan tersebut dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku, lain halnya dengan disiplin ilmu tertentu pengetahuan seseorang akan lebih baik jika ditinjau berdasarkan disiplin ilmunya (Hasbullah, 1999 : 4).
c. Penyuluhan
Memberikan penyuluhan dalam hal ini penyuluhan kesehatan pada masyarakat pada dasarnya bersumber dari filsofi dan paham yang mengakui dan meligitimasi hak dan potensi masyarakat untuk menentukan pilihan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan (Notoatmodjo, 1997 : 70).
Penyuluhan adalah suatu bentuk pendidikan yang diselenggarakan dengan sengaja dan sistematis ( biasanya di luar system sekolah dan system pendidikan formal ) dengan penyesuaian waktu pelaksanaan, materi yang diberikan, proses belajar mengajar yang dipakai dan fasilitas yang digunakan serta tenaga pengajar dengan kebutuhan dan keadaan peserta didik dan kebutuhan lingkungan masyarakat sekitarnya.
Penyuluhan akan menambah pengetahuan seseorang semakin sering seseorang mengikuti program penyuluhan yang ada maka semakin meningkat pula pengetahuannya dibanding orang yang tidak mengikuti program tersebut (Notoatmodjo, 1997 : 70).
B. Tinjauan Tentang Gangguan Penggunaan Zat Adiktif
1. Pengertian
Gangguan penggunaan zat adiktif adalah suatu penyimpangan prilaku yang disebabkan oleh penggunaan zat adiktif yang bekerja pada susunan saraf pusat yang mempengaruhi tingkah laku, memori alam perasaan, proses piker sehingga mengganggu fungsi social (Hamid, 1999 : 144).
Penyalagunaan zat adiktif suatu pola penggunaan yang bersifat patologis yang menyebabkan klien mengalami sakit yang cukup berat dan berbagai macam kesulitan, tetapi tidak mampu menghentikannya. Sedangkan ketergantungan zat adiktif adalah suatu kondisi yang cukup berat yang ditandai dengan adanya ketergantungan fisik yaitu toleransi dan sindroma putus zat (Hamid, 1999 : 14).
Kedaruratan Psikiatri berkaitan dengan penyalagunaan dan ketergantungan zat adalah kelainan mental organic yang disebabkan oleh penyalagunaan narkotika, alcohol dan zat adiktif lainnya, dan diakibatkan oleh efek-efek langsung zat yang dipakai terhadap susunan saraf pusat. Gambaran dari keadaan ini merupakan kelainan psikologik atau tingkah laku yang berhubungan disebabkan oleh gangguan fungsi otak yang sifatnya sementara atau menetap (Depkes RI, 1999 : 177).
Menurut WHO (World Health Organization) ketagihan obat adalah suatu keadaan keracunan obat yang periodic atau menahun, yang merugikan individu dan masyarakat yang disebabkan oleh penggunaan suatu obat yang berulang-ulang (Maramis, 1998 : 324).
2. Rentang respon gangguan penggunaan zat adiktif
Rentang respon penggunaan zat adiktif ini berfluktuasi daei kondisi yang ringan sampai yang berat. Indicator dan rentang respon berdasarkan perilaku yang ditampakan oleh klien dengan penggunaan zat adiktif.
Menurut stuart dan sundeen dalam Hamid ( 1999 : 144) bahwa rentang respon penggunaanzat adiktif dapat digambarkan sebagai berikut : 

a. Penggunaan zat adiktif secara adiktif cara eksperimental
Kondisi ini merupakan tahap awal disebabkan rasa ingin tahu dari klien yang sesuai dengan tumbuh kembang, ingin mencari pengalaman yang baru, atau sering juga dikatakan taraf coba-coba.
b. Penggunaan zat adiktif secara rekreasional
Menggunakan zat adiktif pada waktu berkumpul bersama-sama dengan teman sebaya. Penggunaan zat ini mempunyai tujuan untuk rekreasi bersama teman sebaya.
c. Penggunaan zat adiktif secara Situasional
Seseorang yang menggunakan zat adiktif mempunyai tujuan tertentu secara individual, sudah merupakan kebutuhan bagi dirinya sendiri. Seringkali penggunaan ini merupakan cara untuk melarikan diri atau mengatasi masalah yang dihadapinya. Biasanya seseorang menggunakan pada saat sedang konflik, stress dan frustasi.
d. Penyalahgunaan zat adiktif
Penggunaan zat adiktif yang sudah bersifat patologis, sudah mulai satu bulan, terjadi penyimpangan prilaku, dan mengganggu fungsi dalam peran lingkungan sosial dan pendidikan.
e. Ketergantungan zat adiktif
Penggunaan zat yang cukup berat, telah terjadi ketergantungan fisik dan psikologis. Ketergantungan fisik ditandai dengan adanya toleransi dan sindrom putus zat. Yang dimaksud dengan sindrom putus zat adalah suatu kondisi dimana individu yang biasa menggunakan zat yang biasa digunakan sehingga menimbulkan gejala pemutusan zat yang sesuai dengan penggunaan (zat yang dipakai). Toleransi adalah suatu kondisi dari remaja yang telah mengalami peningkatan dosis, untuk mencapai tujuan yang biasa diinginkan.
C. Tinjauan Asuhan Keperawatan Gangguan Pengguna Zat Adiktif
Menurut DPP PPNI (1999) Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada klien pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia, dengan menggunakan menggunakan metodologi proses keperawatan yang berpedoman pada standar Asuhan keperawatan.
Asuhan keperawatan jiwa adalah tindakan praktek keperawatan oleh perawat dalam memenuhi kebutuhan pada gangguan jiwa dengan aplikasi proses keperawatan. Praktek keperawatan adalah tindakan mandiri keperawatan professional melalui kerjasama berbentuk kolaborasi dengan klien dengan lingkup, wewenang dan tanggung jawab (Husin, 1992).
Menurut Ali (1997) Proses keperawatan adalah metode asuhan keperawatan yang ilmiah, sistematis, dinamis dan terus – menerus serta berkesinambungan dalam rangka pemecahan masalah kesehatan pasien, dimulai dari pengkajian, perencanaan tindakan keperawatan, pelaksanaan dan evaluasi tindakan keperawatan. Keempat aspek asuhan keperawatan tersebut merupakan dasar pemberian pelayanan keperawatan pada klien dengan gangguan zat adiktif yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pengkajian Keperawatan
Dalam pengkajian ada beberapa yang penting untuk diketahui, yaitu pendukung (predisposisi ), stressor pencetus terjadinya penggunaan zat adiktif, perilaku dan mekanisme koping.
a. Faktor predisposisi
Menurut Stuart dan Sundeen dalam Keliat dkk (1999) Beberapa predisposisi terjadinya gangguan penggunaan zat adiktif adalah :
1) Faktor biologis
ini meliputi : genetic (toleransi keluarga), metabolic (etanol dimetabolisme menjadi lama), infeksi pada organ otak (intelegensi otak rendah) dan penyakit kronis.
2) Faktor psikologis
Beberapa psikologis yang terkait adalah : tipe kepribadian tergantung penggunaan zat adiktif, disfungsi keluarga, klien merasa tidak aman, klien mempunyai pemecahan masalah yang menyimpang, klien mengalami gangguan krisis identitas, klien bermusuhan dengan orang tua.
3) Faktor sosio cultural
a) Masyarakat yang ambivalens tentang penggunaan zat adiktif seperti : tembakau, ganja dan alcohol.
b) Norma kebudayaan : suku-suku bangsa tertentu menggunakan zat adiktif untuk upacara adat dan keagamaan.
c) Lingkungan tempat tinggal.
d) Persepsi atau penerimaan masyarakat terhadap penggunaan zat adiktif.
b. Prespitasi
Stress dalam kehidupan merupakan suatu kondisi pencetus terjadinya gangguan penggunaan zat adiktif. Biasanya zat adiktif merupakan suatu cara untuk mengatasi stress yang dialami dalam kehidupan. Stressor, presipitasi untuk terjadinya penggunaan zat adiktif adalah :
Pernyataan untuk mandiri dan membutuhkan teman-teman sebaya sebagai pengakuan, reaksi sebagai prinsip kesenangan, kehilangan orang tua atau orang yang dikasihi, diasingkan dari lingkungan, kopleksitas dari kehidupan modern.
c. Perilaku
Perilaku pasien dan kondisi ketergantungan, terdiri dari :
1) Perilaku klien dengan penggunaan ganja
Kontrol diri menurun bahkan akan hilang sama sekali, menurunnya motivasi akan perubahan diri dan euphoria ringan.
2) Perilaku klien gangguan alkohol
Sikap bermusuhan, depresi, kontrol diri menurun, suara keras, verbal kacau, agresif, minum alkohol pada pagi hari atau tidak kenal waktu, partisipasi dilingkungan sosial sangat kurang.
3) Perilaku klien dengan penggunaan opioida
Klien terkantuk-kantuk, verbal kacau, koordinasi motorik terganggu, acuh terhadap lingkungan, kurang perhatian, perilaku manipulatif untuk mendapatkan zat adiktif.
4) Perilaku klien dengan penggunaan Kokain
Hiperaktif, euforia, iritabilitasi, halusinasi dan waham, kewaspadaan yang berlebihan, sangat tegang, gelisah, insomnia, tampak membesar-besarkan sesuatu.
5) Perilaku klien dengan penggunaan halusinogen
Tingkah laku merusak diri sendiri, halusinasi, ilusi, distorsi, mendapat kecelakaan dalam mengendarai, sikap merasa diri besar dan depersonalisasi.
2. Perencanaan Keperawatan
Tujuan yang ingin dicapai dalam memberikan tindakan keperawatan pada pasien dengan gangguan penggunaan zat adiktif adalah agar tidak terjadi ancaman terhadap kehidupan, tidak memburuknya keadaan kesadaran pasien, aman dari kecelakaan terutama pada kondisi intoksikasi, termotivasi untuk mengikuti program terapi, mengenal hal-hal positif pada dirinya.
3. Pelaksanaan Keperawatan
Dalam melakukan tindakan keperawatan sehubungan dengan pengguanaan zat adiktif, mengacu pada masalah yang muncul. Adapun masalah yang sering nampak pada gangguan penggunaan zat adiktif adalah intoksikasi dan gangguan pemusatan perhatian. Sehingga tindakan keperawatan yang diberikan adalah :
a. Gangguan kesadaran
1) Observasi tanda-tanda vital terutama kesadaran, gejala kejang terutama 15 menit pada 3 jam pertama, 30 menit pada 3 jam kedua, setiap jam pada 24 jam berikutnya.
2) Bekerjasama dengan dokter dalam pemberian obat diazepam.
3) Memberikan rangsangan fisik terus menerus, dengan cara menepuk - nepuk bahu, memanggil nama pasien, mengajak pasien bicara terus menerus agar pasien tetap sadar.
4) Memberikan rasa aman dengan menghindari bunyi-bunyian
5) Fiksasi bila klien gelisah.
b. Gangguan pemusatan perhatian
1) Mengkaji dengan evaluasi dengan menyiapkan pasien untuk psikotest.
2) Mengkaji sosial ekonomi dan tingkat pendidikan pasien
3) Memberikan pujian bila pasien melakuka penyelesaian suatu pekerjaan.
4) Mengikut sertakan pasien dalam kegiatan pertemuan kelompok.
4. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Evaluasi dapat dibagi dua yaitu : evaluasi proses atau formatif dilakukan setiap melakukan tindakan, evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan umum dan tujuan khusus yang telah ditentukan. Beberapa hal yang perlu dievaluasi pada tahap ini adalah tingkat kesadaran pasien, apakah harga diri klien sudah kembali, perilaku pasien merefleksikan meningkatnya pengertian tentang adanya hubungan antara stress terhadap penggunaan zat adiktif.
KERANGKA PIKIR
A. Dasar pemikiran Variabel
Tindakan keperawatan pada pasien dengan gangguan pengguanaan zat adiktif dapat diukur dari tingkat keberhasilan klien dalam memahami keadaan dirinya dan menerima dirinya secara realitas. Untuk mengembalikan kondisi klien tersebut maka beberapa langkah intervensi keperawatan yang harus diberikan oleh perawat, yang mengacu pada masalah yang muncul yaitu gangguan kesadaran dan pemusatan perhatian . oleh karena itu, fokus pelaksanaan pada klien gangguan penggunaan zat adiktif meliputi aspek-aspek tersebut yaitu untuk mengembalikan kesadaran pasien dan kebutuhan diri klien.
Berdasarekan uraian tersebut di atas maka upaya untuk memenuhi kebutuhan klien harus mengaplikasikan asuhan keperawatan, yang mencakup beberapa aspek, yaitu : pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi keperawatan. Adapun uraian variabel dapat dilihat pada bagan kerangka konsep berikut :
B. Bagan Kerangka Pikir
Variabel independen
|
|
C. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah
1. Variabel Bebas ( Independent )
Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat (Sugiyono, 2000). Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu tingkat pengetahuan (tahu) perawat tentang asuhan keperawatan (pengkajian,perencanaan,implementasi dan evaluasi).
2. Variabel Terikat ( Dependent )
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2000). Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu perawat yang melaksanakan asuhan keperawatan.
D. Defenisi Operasional dan Kriteria Obyektif
Pengetahuan (tahu) adalah kemampuan perawat untuk menyebutkan dan asuhan keperawatan secara menyeluruh.
Asuhan keperawatan adalah rangkaian kegiatan dalam praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada klien untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Asuhan keperawatan dalam penelitian ini terdiri dari 4 bagian yaitu :
1. Pengkajian adalah proses awal dari asuhan keperawatan yang bertujuan mengumpulkan data pasien gangguan penggunaan zat adiktif yaitu Faktor predisposisi : Faktor biologis meliputi ; genetic (toleransi keluarga), metabolic (etanol dimetabolisme menjadi lama), infeksi pada organ otak (intelegensi otak rendah) dan penyakit kronis, Faktor psikologis Meliputi: tipe kepribadian tergantung penggunaan zat adiktif, disfungsi keluarga, klien merasa tidak aman, klien mempunyai pemecahan masalah yang menyimpang, klien mengalami gangguan krisis identitas, klien bermusuhan dengan orang tua, Faktor sosio cultural meliputi Masyarakat yang ambivalens tentang penggunaan zat adiktif seperti : tembakau, ganja dan alcohol, Norma kebudayaan : suku-suku bangsa tertentu menggunakan zat adiktif untuk upacara adat dan keagamaan, Lingkungan tempat tinggal, Persepsi atau penerimaan masyarakat terhadap penggunaan zat adiktif. Prespitasi meliputi : Stress dalam kehidupan merupakan suatu kondisi pencetus terjadinya gangguan penggunaan zat adiktif. Biasanya zat adiktif merupakan suatu cara untuk mengatasi stress yang dialami dalam kehidupan. Stressor, presipitasi untuk terjadinya penggunaan zat adiktif adalah : Pernyataan untuk mandiri dan membutuhkan teman-teman sebaya sebagai pengakuan, reaksi sebagai prinsip kesenangan, kehilangan orang tua atau orang yang dikasihi, diasingkan dari lingkungan, kopleksitas dari kehidupan modern. Perilaku Perilaku pasien dan kondisi ketergantungan, terdiri dari : Perilaku klien dengan penggunaan ganja : Kontrol diri menurun bahkan akan hilang sama sekali, menurunnya motivasi akan perubahan diri dan euphoria ringan. Perilaku klien gangguan alkohol : Sikap bermusuhan, depresi, kontrol diri menurun, suara keras, verbal kacau, agresif, minum alkohol pada pagi hari atau tidak kenal waktu, partisipasi dilingkungan sosial sangat kurang. Perilaku klien dengan penggunaan opioida : Klien terkantuk-kantuk, verbal kacau, koordinasi motorik terganggu, acuh terhadap lingkungan, kurang perhatian, perilaku manipulatif untuk mendapatkan zat adiktif. Perilaku klien dengan penggunaan Kokain : Hiperaktif, euforia, iritabilitasi, halusinasi dan waham, kewaspadaan yang berlebihan, sangat tegang, gelisah, insomnia, tampak membesar-besarkan sesuatu. Perilaku klien dengan penggunaan halusinogen : Tingkah laku merusak diri sendiri, halusinasi, ilusi, distorsi, mendapat kecelakaan dalam mengendarai, sikap merasa diri besar dan depersonalisasi. . Dengan kriteria obyetif :
Baik : Bila responden menjawab benar 80 – 100% dari total skor.
Cukup : Bila responden menjawab benar 60 – 79% dari total skor.
Kurang : Bila responden menjawab benar kurang dari 60% dari total skor.
Dengan jumlah skor 100% diabagi 50 item soal sehingga bobot peritem soal adalah 2%
2. Perencanaan adalah tahapan kedua dari asuhan keperawatan yang bertujuan untuk menyusun kegiatan yang akan dilakukan untuk mengatasi atau mencegah suatu masalah yang meliputi agar tidak terjadi ancaman terhadap kehidupan, tidak memburuknya keadaan kesadaran pasien, aman dari kecelakaan terutama pada kondisi intoksikasi, termotivasi untuk mengikuti program terapi, mengenal hal-hal positif pada dirinya.. Dengan kriteria obyektif :
Baik : Bila responden menjawab benar 80 – 100% dari total skor.
Cukup : Bila responden menjawab benar 60 – 79% dari total skor.
Kurang : Bila responden menjawab benar kurang dari 60% dari total skor.
Dengan jumlah skor 100% dibagi 5 item soal sehingga bobot peritem soal adalah 20%
3. Implementasi adalah pelaksanaan kegiatan yang telah dibuat pada tahap perencanaan, meliputi : implementasi pasien gangguan kesadaran dan gangguan pemusatan perhatian dengan criteria obyektif :
Baik : Bila responden menjawab benar 80 – 100% dari total skor.
Cukup : Bila responden menjawab benar 60 – 79% dari total skor.
Kurang : Bila responden menjawab benar kurang dari 60% dari total skor.
Dengan jumlah skor 100% diabagi 8 item soal sehingga bobot peritem soal adalah 12,5%
4. Evaluasi adalah tindakan menilai tingkat keberhasilan dari implemtasi keperawatan Beberapa hal yang perlu dievaluasi pada tahap ini adalah tingkat kesadaran pasien, apakah harga diri klien sudah kembali, perilaku pasien merefleksikan meningkatnya pengertian tentang adanya hubungan antara stress terhadap penggunaan zat adiktif. Dengan kriteria obyektif :
Baik : Bila responden menjawab benar 80 – 100% dari total skor.
Cukup : Bila responden menjawab benar 60 – 79% dari total skor.
Kurang : Bila responden menjawab benar kurang dari 60% dari total skor.
Dengan jumlah skor 100% diabagi 5 item soal sehingga bobot peritem soal adalah 20%
Related Post:
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Entri Populer
Kategori
- Farmakologi (21)
- Hipnotherapy (13)
- Info Kesehatan Terbaru (23)
- Keperawatan Anak (37)
- Keperawatan Jiwa (71)
- Keperawatan Maternitas (25)
- Keperawatan Umum (48)
- Software (26)

Bismillah, Alhamdulillah, My Name is Ilham Burhanuddin and my nickname is Ilo and I was born in kendari on Juli 15, 1986.
I’m Blogger from Indonesia. I hope all my Posts is usefull for all of you. Thanks for visit here and support me. The text, images and the tutorials themselves are under copyright of their respective author, so you cannot copy them either in english or in any other translated language. Also the Blogger Templates and Widgets provided on this website are licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 License, which permits both personal and commercial use. However, to satisfy the ‘attribution’ clause of the license, you are required to keep the footer links intact which provides due credit to its authors.
0 komentar:
Posting Komentar