ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN MENINGITIS

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN MENINGITIS


1. DEFINISI
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal colomn yang menyebabkan proses infeksi pada system syaraf pusat.

2. PATOFISIOLOGI
• Efek peradangan akan menyebabkan peningkatan cairan serebrospinal yang dapat menyebabkan obstruksi dan selanjutnya terjadi Hidrosefalus dan peningkatan tekanan intra cranial. Edema dan eksudasi yang kesemuanya menyebabkan peningkatan tekanan intra cranial.
• Organisme masuk melalui sel darah merah pada blood brain barier. Masuknya dapat melalui trauma penetrasi, prosedur pembedahan atau pecahnya abses cerebral atau kelainan system saraf pusat. Ottorrhea atau rhinorrhea akibat fraktur dasar tengkorak dapat menimbulkan meningitis, dimana terjadi hubungan antara CSF dan dunia luar.
• Masuknya mikroorganisme kesusunan sarf pusat melalui ruang subarachnoid dan menimbulkan respon peradangan pada arachnoid, CSF dan ventrikel.
• Dari reaksi radang muncul eksudat dan perkembangan infeksi pada ventrikel, eedema dan skar jaringan sekeliling ventrikel menyebabkan obstruksi pada CSF dan menimbulkan Hidrosefalus.
• Meningitis bakteri: netrofil, monosit, limfosit, dan yang lainnya merupakan sel respon radang. Eksudat terdiri dari bakteri fibrin dan lekosit yang dibentuk diruang subarchnoid. Penumpukan pada CSF akan nertambah dan mengganggu aliran CSF disekitar otak dan medulla spinalis. Terjadi vasodilatasi yang cepat dari pembuluh darah dan jaringan otak dapat menjadi infark.
• Meningitis virus sebagai sebagai akibat dari penyakit virus seperti meales, mumps, herpes simpleks dan herpersz zoster. Pembentukan mikroorganisme pada kultur CSF

3. KOMPLIKASI
• Hidrosefalus obstruktif
• Meningococcal septicemia
• Sindrom Water- Friderichsan ( septic syok, DIC, perdarahan adrenal bilateral )
• SIADH ( Syndrome Inappropriate Antidiuretic Hormone )
• Efusi subdural
• Kejang
• Edema dan herniasi serebral
• Cerebral palsy
• Gangguan mental
• Gangguan belajar

4. ETIOLOGI
• Bakteri : Haemophilus influenza ( tipe B ), Stertococcus pneumonia, neisseria meningitides, β-hemolityc streptococcus, staphylococcus aureu, e. colly
• Factor predisposisi : jenis kelamin laki- laki lebih sering dibandingkan dengan wanita
• Factor maternal : rupture membrane fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan
• Factor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi immunoglobulin, anak yang mendapat obat- obat imunosupresi
• Anak dengan kelainan system saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan system persarafan

5. MANIFESTASI KLINIS
• Neonatus : menolak untuk makan, refleks menghisap kurang, muntah atau diare, tonus otot kurang, kurang gerak, dan menangis lemah
• Anak- anak dan remaja : demam tinggi, sakit kepala, muntah yang diikuti dengan perubahan sensori, kejang, mudah terstimulasi dan teagitasi, fotopobia, delirium, halusinasi, perilaku agresif atau maniak, stupor, koma, kaku kuduk, opitotonus, Tanda kernig dan brudzinski positif refleks Fisiologi hiperaktif, ptechiae, atau pruritus ( menunjukkan adanya infeksi meningococcal )
• Bayi dan anak- anak ( usia 3 bulan – 2 tahun ) : demam, malas makan, muntah, mudah terstimulasi, kejang, menangis dan merintih, ubun- ubun menonjol, kaku kuduk dan tanda Kernig dan Brudzinski positif

6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
• Punksi lumbal : tekanan cairan meningkat, jumlah sel darah putih meningkat, glukosa menurun, protein meningkat
• Kultur darah
• Kultur swab hidung dan tenggorokan

7. PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK
• Isolasi
• Terapi antimikroba : antibiotic yang diberikan didasarkan pada hasil kultur, diberikan dengan dosis tinggi melalui intravena
• Mempertahankan hidrasi optimum : mengatasi kekuranagn cairan dan mencegah kelebihan cairan yang dapat menyebabkan edema serebral
• Mencegah dan mengobati komplikasi : aspirasi efusi subdural ( pada bayi ), terapi heparin pada anak yang mengalami DIC
• Mengontrol kejang : pemberian terapi anti epilepsy
• Mempertahankan ventilasi
• Mengurangi meningkatkatnya tekanan intra cranial
• Penatalaksanaan syok bacterial
• Mengontrol perubahan suhu lingkungan yang ekstrim
• Memperbaiki anemia

8. PENGKAJIAN
• Riwayat keperawatan : riwayat kelahiran, penyakit kronis, neoplasma, riwayat pembedahan pada otak, cedera kepala
• Pada neonatus : kaji adanya perilaku menolak untuk makan, refleks menghisap kurang, muntah atau diare, tonus otot kurang, kurang gerak, dan menangis lemah
• Pada anak dan remaja : kaji adanya demam tinggi, sakit kepala, muntah yang di ikuti dengan perubahan sensori,kejang, mudah terstimulasidan teragitasi, fotopobia, delirium, halusinasi, perilaku agresif, atau maniak, penurunan kesadaran, kaku kuduk, opistotonus, tanda Kernig dan Brudzinsky positif, refleks fisiologis hiperaktif, ptechiace atau pruritis.
• Bayi dan anak- anak (usia 3 bulan – 2 tahun ) : kaji adanya demam, malas makan, muntah, mudah terstimulasi, kejang, menangis dengan merintih, ubun- ubun menonjol, kaku kuduk, dan tanda Kernig dan Brudzinski positif

9. DIAGNOSA KEPERAWATAN
• Perubahan perfusi serebral b.d proses inflamasi
• Gangguan pertukaran gas b.d meningkatnya tekanan intra cranial
• Bersihan jalan napas tidak efektif b.d kelemahan otot- otot pernapasan, ketidakmampuan untuk batuk, penurunan kesadaran dan menurunya kemampuan untuk bernapas
• Risiko injury b.d disorientasi, kejang, gelisah
• Perubahan proses berpikir b.d perubahan tingkat kesadaran
• Kurangnya volume cairan b.d menurunnya intake cairan, kehilangan cairan yang abnormal

10. PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI
• Mempertahankan perfusi serebral yang adekuat
 Pastikan anak tidak mengalami injury
 Pertahankan anak tetap kontak dengan lingkungan sekitar
 Mengobservasi dan mencatat tingkat kesadaran ( kewaspadaan, orientasi, mudah terstimulus, letargi, respon yang tidak tepat )
 Menilai status neurologist tiap 1-2 jam
 Monitor adanya peningkatan TIK ( melingkarnya lingkar kepala, fontanel menonjol, meningkatnya TD, menurunnya nadi, pernafasan tidak beraturan, mudah terstimulasi, menangis merintih, gelisah, bingung, perubahan pupil, kejang, deficit vocal )
 Catat setiap kejang yang terjadi, anggota tubuh yang terkena, lamanya kejang dan aura
 Menyiapkan peralatan bila terjadi kejang
 Meninggikan bagian kepala tempat tidur 30 derajat
 Mempertahankan kepala dan leher dalam satu garis lurus untuk memudahkan venous return
 Memberikan AB sesuai indikasi, mempertahankan lingkungan yang tenang, dan menghindari rangsangan yang berlebihan
 Mengajarkan kepada anak untuk menghindari valsava maneuver dan jika merubah posisi anak lakukan secara perlahan
 Melakukan latihan pasif/ aktif ( ROM )
 Hindari dilakukannya pengikatan jika memungkinkan
 Monitor tanda- tanda septic syok ( hipotensi, meningkatnya temperature, meningkatnya pernapasan, kebingungan, disorientasi, vasokontriksi perifer )
 Monitor hasil analisa gas darah
 Memberikan oksigen sesuai indikasi

• Mempertahankan oksigen yang adekuat
 Auskultasi suara pernapasan setiap 4 jam, laporkan adanya bunyi nafas tambahan ( wheezing, crackles )
 Monitor frekuensi pernafasan, pola, inspirasi,dan ekspirasi, observasi kulit, kuku, membrane mukosa terhadap adanya sianosis
 Monitor analisa gas darah terhadap hipoksia
 Melakukan rontgen dad untuk mengetahui adanya infiltrate
 Ganti posisi tiap 2 jam
 Mempertahankan kepatenan jalan nafas, melakukan pengisapan lendir, dan mengatur posisi tidur dengan kepala ekstensi
 Menilai adanya kehilangan refleks muntah
 Memberikan oksigen sesuai order dan monitor efektivitas pemberian oksigen
 Observasi meningkatnya kebingungan, mudah terstimulasi, gelisah, laporkan tiap perubahan kepada dokter

• Mencegah injury
 Kaji tanda- tanda komplikasi
 Kaji status neurologist secara ketat
 Kaji status pernafasan
 Hindari peningkatan TIK : yang dapat menimbulkan valsava menauver ; batuk : mengejan, bersin,rangsangan dari prosedur seperti pengisapan lendir

• Mempertahankan fungsi sensori
 Bertingkah laku tenang, konsisten, bicara lambat, dan jelas untuk meningkatkan pemahaman anak
 Mengajar anak berbicara ketika melakukan tindakan, menggunakan sentuhan terapeutik
 Mengorientasi secara verbal kepada orang, tempat, waktu, situasi, menyediakan mainan, barang yang disukai, barang yang di kenal
 Memanggil dengan nama yang disukai anak

• Mempertahankan keseimbangan cairan elektrolit yang adekuat
 Mengukur TTV tiap 4 jam
 Monitor hasil laboratorium ; elektrolit, BJ urin
 Mengobservasi tanda- tanda retensi cairan dan cairan hipotonik yang menunjukkan terjadinya SIADH
 Menimbang BB tiap hari
 Memastikan bahwa jumlah cairan yang masuk tidak berlebihan
 Memberikan cairan dengan sering tetapi dalam jumlah yang kecil untuk mengurangi distensi lambung
 Mempertahankan dan memonitor tekanan vena pusat

• Mempertahankan kebutuhan nutrisi yang adekuat
 Ijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat
 Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
 Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan tehnik porsi kecil tapi sering
 Menganjurkan anak untuk makan secara perlahan dan menghindari posisi baring 1 jam setelah makan
 Menciptakan lingkungan yang menyenangkan pada saat makan
 Menimbang BB tiap hari
 Mempertahankan kebersihan mulut anak
 Menjelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit
 Izinkan keluarga untuk makan bersama anak jika memungkinkan
 Membatasi intake cairan selama makan yaitu menghindari minum 1 jam sebelum dan setelah makan untuk mengurangi distensi lambung

• Orang tua akan mengekspresikan ketakutan/ kecemasan terhadap kemungkinan kehilangan anak dan mencari solusi untuk mengatasinya
 Mengkaji perasaan dan persepsi orang tua terhadap situasi atau masalah yang dihadapi
 Memfasilitasi orang tua untuk mengeksperesikan kecemasan dan tentukan hak yang paling membuat anak/ keluarga merasa terancam, mendengarkan dengan aktif dan empati
 Memberikan dukungan pada keluarga dan menjelaskan kondisi anak sesuai dengan realita yang ada serta menjelaskan program pengobatan yang diberikan
 Mengajarkan teknik relaksasi yang sederhana
 Membantu orang tua mengembangkan strategi untuk melakukan penyesuaian terhadap krisis akibat penyakit yang diderita anak




Related Post:

0 komentar:

Daftar Isi

Welcome to Kumpulan Materi Keperawatan

Bismillah, Alhamdulillah, My Name is Ilham Burhanuddin and my nickname is Ilo and I was born in kendari on Juli 15, 1986. I’m Blogger from Indonesia. I hope all my Posts is usefull for all of you. Thanks for visit here and support me. The text, images and the tutorials themselves are under copyright of their respective author, so you cannot copy them either in english or in any other translated language. Also the Blogger Templates and Widgets provided on this website are licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 License, which permits both personal and commercial use. However, to satisfy the ‘attribution’ clause of the license, you are required to keep the footer links intact which provides due credit to its authors.

Social Stuff

  • RSS
  • Twitter
  • Facebook
  • HOME
Info